^ Scroll to Top
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, May 12, 2013

Seri Kisah Al-Quran: Kekuatan Fisik dan Kesucian Hati Menjadikan Thalut Pemimpin Bani Israil
Seorang pemuda sedang bekerja keras di ladang bersama ayahnya. Ia adalah seorang pemuda berbadan kuat dan berhati suci. Karena begitu seriusnya ia tidak tahu bahwa hewan-hewan peliharaannya telah menjauh dari ladangnya. Sesaat kemudian ia berdiri dan mengusap keringat di atas dahinya. Ia melihat sekitar dan baru memahami kalau hewan-hewan peliharaannya sudah tidak ada lagi. Bersama salah satu pekerjanya ia pergi mencari hewan-hewannya. Kemanapun mereka berdua mencari tetap saja tidak menemukannya. Ketika mereka berdua ingin kembali ke ladang, pekerjanya berkata, "Di sini adalah tempat kelahiran Nabi Samuel as. Berhubung sudah terlanjur sampai di sini, mari kita datangi beliau dan meminta bimbingannya.
Thalut menerima ajakan pekerjanya dan berdua menuju rumah Nabi Samuel as. Dalam kondisi lelah dan haus mereka berdua sampai di lereng sebuah gunung. Terdengar suara masyarakat mengatakan, "Hai Samuel! Angkatlah seorang raja untuk kami agar kami bisa membantunya berperang di jalan Allah!"

Seorang laki-laki yang cahaya wajahnya menunjukkan bahwa ia sebagai seorang utusan Allah, menjawab, "Kalian kaum Bani Israil adalah orang-orang yang lemah. Aku yakin bila kalian diutus untuk berperang, kalian akan melimpahkannya kepada orang lain. Meski demikian saya tetap akan menunggu perintah dari Allah terkait kalian."

Thalut dan pekerjanya semakin mendekat. Melihat mereka berdua, Nabi Samuel langsung memutus pembicaraannya. Orang-orang sedikit mundur ke belakang. Nabi Samuel berkata, "Dia telah datang! Dialah orang yang kalian tunggu-tunggu untuk mengatur urusan kalian. Dia adalah Thalut!"
Thalut yang masih muda merasa takjub dan bertanya, "Anda mengenal saya? Saya hanya seorang petani miskin. Saya datang ke sini untuk meminta bimbingan Anda agar bisa menemukan hewan-hewan peliharaan saya!"

Samuel berkata, "Jangan khawatir! Hewan-hewanmu sekarang juga sedang menuju ladang ayahmu. Jangan terikat pada mereka! Sekarang perhatikan urusan yang lebih besar yang dikehendaki oleh Allah! Allah pencipta semesta alam telah menetapkan kamu sebagai pemimpin Bani Israil."

Bani Israil terheran-heran menyaksikan peristiwa aneh ini. Satu sama lainnya saling memandang. Dengan wajah cemberut berkata, "Bagaimana mungkin ia bisa menjadi raja kita? Kitalah yang lebih layak untuk menjadi raja bagi dia. Ia tidak memiliki harta kekayaan!"

Samuel berkata, "Allah telah memilihnya untuk kalian dan menambah pengetahuan dan kemampuannya. Allah akan memberikan kerajaan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.

Bani Israil berkata, "Bila Allah telah menghendaki, kami akan menerimanya dengan syarat anda menunjukkan tanda-tandanya!"
Samuel berkata, "Allah mengetahui penentangan kalian. Oleh karena itu, Dia menunjukkan tanda-tandanya. Lihatlah tabut warisan keluarga Musa dan Harun yang selama ini hilang sehingga menyebabkan kelemahan dan kemalangan, saat ini juga akan kembali lagi kepada kalian. Tabut yang dibawa oleh para malaikat ini akan menjadi bahan pelajaran bagi kalian, bila memang kalian beriman."

Dengan semangat masyarakat bangkit dan menengok ke sana ke mari. Tabut itu merupakan nikmat ilahi yang diberikan kepada mereka. Nikmat ini telah memberikan keberkahan kepada Bani Israil. Akan tetapi ketika mereka telah menyimpang dari syariat, akhlak dan perilaku mereka condong kepada keburukan, tabut ini menghilang. Akhirnya persatuan dan kesatuan Bani Israil menjadi bercerai-berai.

Bani Israil akhirnya berbaiat kepada Thalut dan menerima kepemimpinannya karena melihat tabut tersebut.
Sejak awal kepemimpinannya, Thalut telah mengerahkan segala kebijakan dan pemikirannya. Ia menghadap kepada Bani Israil dan berkata, "Barang siapa yang mau mendaftar menjadi pasukan, pikirannya harus kosong. Yang ingin bergabung dengan pasukan kami bukan orang-orang yang berencana membangun sebuah gedung, berencana menikah atau berdagang."

Para pasukan bersiap sedia. Dengan rapih mereka berada di hadapan Thalut. Sambil berpikir, Thalut melihat wajah-wajah pasukannya. Pandangan sebagian mereka menampakkan keragu-raguan. Untuk menguji mereka Thalut berkata, "Dalam perjalanan kita akan sampai pada sebuah sungai. Barang siapa yang bersabar dan menaatiku, ia tidak minum air itu atau hanya minum segenggam air saja!"
Namun ketika pasukan Thalut sampai di tempat itu, mereka betul-betul dalam kondisi kehausan dan meminum air laut sebanyak-banyaknya kecuali beberapa orang saja yang tidak meminumnya

Thalut berkata, "Sekarang, pasukanku hanyalah orang-orang yang sabar dan mukmin."
Kemudian ia membaginya menjadi dua kelompok dan pergi menuju medan pertempuran.
Musuh memiliki banyak persenjataan dan perlengkapan. Pemimpin dan komandan mereka bernama Jalut.

Pasukan penakut yang ada di dalam barisan Thalut merasa ketakutan saat melihat Jalut.

Mereka berkata, "Hari ini kita tidak sanggup menghadapi Jalut dan pasukannya."

Di tengah-tengah barisan pasukan Thalut ada seorang remaja pemberani maju dan kepada Thalut ia berkata, "Aku diutus oleh ayahku untuk melaporkan kepada beliau berita tentang dua saudaraku di medan peperangan. Namun sekarang aku ingin berperang melawan Jalut."

Pada mulanya Thalut tidak begitu mempedulikannya. Pemuda pemberani itu bernama Daud. Ia lebih bersemangat di banding sebelumnya seraya berkata, "Perawakan kecil dan kelemahanku jangan sampai membuat Anda salah. Kemarin saya telah membunuh seekor beruang dan sebelumnya saya telah bertempur melawan seekor harimau.

Thalut memuji kemauan dan semangat Daud dan mengizikannya untuk berperang. Namun ketika Jalut tertawa saat melihat remaja ini berada di hadapannya dan berkata, "Sudah bosankah kamu dari jiwamu? Apakah tongkatmu ini sebagai senjatamu?"
Saat itu ucapan Jalut belum selesai. Daud meletakkan batu di dalam umban dan melemparnya ke arah Jalut. Seketika itu juga kepala Jalut terluka. Saat itu Jalut belum tersadar, Daud sudah melemparkan batu berikutnya berkali-kali sehingga Jalut terjatuh.

Allah telah menetapkan Daud sebagai raja dan memberinya hikmah sepeninggal Thalut. Allah telah memberikan apa saja yang dikehendaki-Nya dan mengangkatnya sebagai salah satu nabi-Nya.

Kisah ini ada dalam surat Baqarah ayat 246 sampai 251. Dia akhir kisah ini Allah berfirman, "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam." (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Seri Kisah Al-Quran: Pertanyaan Nabi Ibrahim as yang Mampu Menghidupkan Fitrah Manusia
 Al-Quran merupakan sebuah kitab yang memberikan kehidupan dan pencerahan. Ia menjelaskan tentang pelajaran sejarah. Ia menggambarkan penyimpangan-penyimpangan manusia dengan cara lain daripada yang lain, indah dan menarik. Ia mengajak manusia untuk berpikir dengan mengajukan argumen-argumen yang kokoh dan logis. Di antaranya adalah kisah-kisah tentang tauhid dan argumen-argumen yang diajukan oleh Nabi Ibrahim as.


Mari kita simak kisah ini:

- Cepat Ibrahim! Hari raya telah tiba. Kita semua harus pergi ke padang sahara untuk merayakan pesta besar-besaran!\
- Ibrahim berkata, "Tapi aku sakit. Aku tidak bisa pergi bersama kalian."

- Ibrahim! Apa katamu? Ini adalah hari raya yang paling besar. Tidak ada seorang pun yang tinggal di kota.



- Aku minta maaf! Aku akan tinggal di sini.



- Baiklah! Tapi kau sedang menjauhkan dirimu dari kegembiraan.



Ketika Ibrahim sudah yakin bahwa semua masyarakat telah pergi ke luar kota, pelan-pelan ia pergi ke tempat penyembahan berhala. Sebuah tempat yang luas dan penuh dengan berhala-berhala kecil maupun besar. Di samping berhala-berhala itu ada beragam makanan.



Ibrahim menghadap berhala. Sambil tersenyum mengejek, ia berkata, "Mengapa kamu tidak makan? Mengapa kamu tidak berbicara?



Dengan suara pelan Ibrahim berkata, "Bagaimana mungkin batu-batu hasil pahatan manusia akan berbicara?"



Ibrahim sesak dada menyaksikan kejahilan dan kebodohan masyarakat di zamannya. Ia membanting berhala, kemudian mengambil kampak dan menghancurkan berhala-berhala itu. Selanjutnya meletakkan kampak di atas pundak berhala yang paling besar, setelah itu ia keluar dari tempat itu.



Penduduk kota dengan gembira kembali dari acara perayaan dan langsung menuju tempat penyembahan berhala untuk memuja berhala-berhalanya. Tidak lama setelah itu terdengar suara riuh:

- Musibah besar telah menimpa kita! Berhala-berhala telah hancur!

- Siapa yang melakukan penghinaan itu terhadap tuhan-tuhan kita? Ia pasti pezalim.
\
Ada suara muncul di antara kerumunan masyarakat:

- Ini adalah kerjaan Ibrahim. Ia meremehkan dan menghina tuhan-tuhan kita. Ia selalu berkata, "Benda mati tidak layak untuk dipuja dan disembah." Hari ini hanya Ibrahim yang tinggal di kota.

Orang-orang dengan perasaan marah mencari Ibrahim dan menangkap Ibrahim.

Salah seorang dari mereka berkata, "Engkaukah yang melakukan penghinaan ini terhadap tuhan-tuhan kita?"

Ibrahim berkata, "Jangan-jangan berhala besar yang menghancurkan berhala-berhala kecil! Tanyakan padanya!"

Mereka heran dan terdiam. Mereka merujuk kepada nalurinya masing-masing dan kepada dirinya sendiri berkata, "Pasti kita sendiri yang pezalim." Kemudian mereka menunduk. Lantas berkata, "Ibrahim! Kamu sendiri tahu bahwa berhala-berhala ini tidak berbicara!"

Ibrahim berkata, "Tidakkah seharusnya kalian menyembah Tuhan Yang Esa daripada menyembah benda-benda yang yang tidak memberikan manfaat maupun mudharat sama sekali kepada kalian. Celakalah kalian dan yang kalian sembah! Mengapa kalian tidak berpikir?!"

Namrud raja Babil berjalan ke sana ke mari sambil marah dan mengumpat. Ia berkata, "Siapakah Ibrahim itu? Berani-beraninya ia menyebut Tuhan Yang Esa! Sekarang juga tangkap dia dan bawa ke sini?"

Ketika Ibrahim berada di hadapan Namrud. Namrud berkata kepadanya, "Kerusuhan apa yang kau lakukan ini? Siapakah Tuhan Yang Esa itu? Apakah kau mengenal tuhan lain selain aku?"

Ibrahim berkata, "Tuhanku adalah yang menghidupkan dan mematikan. Hanya tuhanku saja yang memberikan nyawa dan mengambilnya."

Dengan suara keras, Namrud tertawa. Sambil marah ia berkata, "Ini bukan sesuatu yang penting. Aku juga menghidupkan dan mematikan."

Kemudian Namrud memerintahkan untuk membawa dua tahanan ke hadapannya. Seketika itu juga ia memerintahkan membunuh yang satu dan membebaskan yang lainnya. Kemudian menghadap ke Ibrahim dan berkata, "Hai Ibrahim. Ini adalah sebuah pekerjaan yang mudah!"


Ibrahim berkata, "Namun Tuhanku adalah pencipta yang mampu. Dengan kehendak-Nya matahari terbit dari timur. Sekarang kau terbitkan matahari itu dari barat!"


Namrud takjub dan kalah di hadapan argumentasi Ibrahim. Oleh karena itulah ia mengeluarkan Ibrahim dari istananya.

Setelah itu Ibrahim dan keluarganya meninggalkan kota Babil. Di pertengahan jalan ia menemukan sebuah kaum yang menyembah bintang-bintang.


Muallaf Krakow Berbagi Kisah : Menjaga Kesucian Cinta

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Tadinya brother Hasan adalah aktivis Gereja yang sangat sibuk, sejak usia sekolah hingga lulus universitas, dia memang amat aktif di berbagai kegiatan. Suatu hari, ia jatuh cinta, waduh, ia gambarkan suasana hati yang amat fantastis, setiap hari terbayang-bayang ‘si wanita yang dicintai ini’.

Perempuan cantik bermata biru yang biasa dilihatnya melalui jendela apartmen, ternyata adalah seorang mahasiswi di universitas lain, beberapa menit perjalanan bus kota dari rumahnya. Mungkin si cewek punya teman yang rumahnya berdekatan dengan brother Hasan.

Hasan bukan orang yang agresif, dia hanya memendam rasa cinta tersebut. Ia memang selalu terbayang-bayang wajah si cewek di kala momen apa pun juga, ibarat lagu dangdut Indonesia, “Mau makan, teringat dia…Mau tidur, teringat dia…”, pokoknya capeeek deh, masa’ sih ingat dia melulu, bisa mengganggu konsentrasi dalam aktivitas lainnya. Namun Hasan tidak menjadi ‘gelap mata’, ia perlahan mencari tahu tentang si cewek, yah dipikirnya, “Siapa tahu memang jodoh…”, kira-kira begitu.

Suatu hari, Hasan kaget, si cewek memakai kain di kepala, (seperti kerudung) padahal kain itu adalah syal panjang. Melalui teman dari cewek itu, Hasan jadi tahu bahwa cewek bermata biru itu sudah menjadi Muslimah. Lantas Hasan menggunakan ‘ilmu dari Paman Google’, ia cari segala hal tentang Muslimah, apakah Muslimah itu? Bagaimanakah kehidupan Muslimah? Kenapa Muslimah berpakaian seperti itu? Dan lain-lain. Dengan cara ‘keluyuran’ di media-media Internet pula, Hasan menemukan berbagai informasi tentang Islam. Ia amat tertarik akan agama ini.

Tak disangka, di suatu sore, awan berarak sore tiba berteman angin kencang, di sudut apartmen tua, Hasan melihat sosok orang berwajah asing (bukan pria lokal, ia menyebutnya seperti wajah dari Jazirah Arab) sedang berpelukan dan bersikap mesra dengan si cewek ‘inceran’ Hasan tersebut. Bagaikan ada petir menyambar hatinya, jantungnya terasa akan copot, oalah, sedihnya brother Hasan. “Selamat sore…”, ia mencoba menyapa kedua insan yang sedang mesra itu. Si cewek dan pria itu membalas, “Selamat sore…”, sambil tersenyum. Selanjutnya Hasan melangkah gontai ke arah apartmennya. Mencoba menyembunyikan nuraninya yang sedang ‘hancur’ bagaikan gempa bumi.

Segera Hasan menemui tetangganya yang merupakan teman si cewek. Ia hanya ‘pura-pura’ ingin tahu, “Siapakah pria yang menemani temanmu itu? Rasanya saya pernah melihatnya…”, tanya Hasan. Jawaban tetangganya makin membuatnya hampir pingsan, “Ooooh… itu Suaminya, teman saya itu sekarang berSuami…” Begitulah, peristiwa ‘jatuh hati’ alias cinta bersemi kepada cewek pujaannya, ternyata langsung menjadi tragedi buat hati Hasan.

Tapi, eitss, jangan terburu-buru bilang ‘tragedi’, Hasan sekarang sudah tahu, bahwa cewek pujaan bermata biru itu masuk Islam karena ingin dinikahi oleh si teman Arabnya, pernikahan itu adalah jenis ‘kawin kontrak’. Hasan mengetahui hal itu setelah kebingungan melanda, tatkala ia melihat beberapa kali, koq si cewek gonta-ganti Suami? Padahal di dalam Islam, tak ada ‘kamusnya’ cewek punya Suami banyak, begitu pikir Hasan. Luluh… Hasan berbalik malah ingin tahu banyak tentang Islam, bersungguh-sungguh untuk menjadi Muslim, ia luluh pada cinta yang sesungguhnya, yaitu pada Sang Pencipta. Ia yakin bahwa Allah SWT sudah melindunginya dari jalan ‘cinta’ yang keliru.

Dengan mudahnya Allah ta’ala ‘menjaga hati’ sesiapa yang dikehendaki-Nya. Brother Hasan tak lagi mencintai si mata biru itu, ia bersyukur bahwa ia masih waras, dan tak tergoda si mata biru lebih jauh. Si cewek ternyata membiayai kuliahnya sendiri dengan cara dinikahi secara kontrak oleh orang-orang Syi’ah, kadang hanya nikah dua minggu, dua bulan, atahu bisa saja sampai setahun, tergantung keperluan ‘Suaminya’. Si cewek tak tahu apa-apa selain ‘diajak bersyahadat’, maka jadilah ia Muslim, padahal rukun-rukun Islam tak dijalankan, Naudzubillahi minzaliik.

Hasan bilang, “Saya malah jauh lebih mencintai Islam. Alhamdulillah telah ada jalan yang indah bagaimana saya bisa menemukan cahaya Islam…” Subhanalloh, brother Hasan sangat mantap berbicara demikian.

Suatu hari, di kala sholat Jum’at, brothers lain melihat Hasan beranting-anting, namun brothers lain merasa segan menegurnya. Di jum’at selanjutnya, Hasan masih menggunakan anting-anting, maka ada seorang brother yang biasa ‘blak-blakan’, bilang, “Kamu baru menjadi Muslim, yah Brother?”

“Iya, saya mencinta Allah, Saya mencintai rasul-Nya. Saya Muslim, baru saja beberapa bulan lalu…”, kata Hasan.

Brother kita lainnya bilang, “Muslim laki-laki tidak boleh beranting-anting, menindik telinga, memakai emas, it’s Haram, Brother…” Selanjutnya ada yang menerangkan padanya tentang hal tersebut, menggunakan bahasa Poland.

Brother Hasan kaget, “Oh ya…?! Waduh saya baru tahu…Ya Allah, I’m sorry…”, katanya. Secara langsung detik itu juga, ia lepas anting-antingnya, ia lepas kalung emasnya, dan ia ulang kata-kata, “I am sorry, Allah… saya benar-benar baru tahu…” Sami’na wa atho’na, bisiknya. 

The Little Match Girl
by Hans Christian Andersen
An illustration for the story The Little Match Girl by the author Hans Christian Andersen

Most terribly cold it was; it snowed, and was nearly quite dark, and evening-- the last evening of the year. In this cold and darkness there went along the street a poor little girl, bareheaded, and with naked feet. When she left home she had slippers on, it is true; but what was the good of that? They were very large slippers, which her mother had hitherto worn; so large were they; and the poor little thing lost them as she scuffled away across the street, because of two carriages that rolled by dreadfully fast.

One slipper was nowhere to be found; the other had been laid hold of by an urchin, and off he ran with it; he thought it would do capitally for a cradle when he some day or other should have children himself. So the little maiden walked on with her tiny naked feet, that were quite red and blue from cold. She carried a quantity of matches in an old apron, and she held a bundle of them in her hand. Nobody had bought anything of her the whole livelong day; no one had given her a single farthing.

She crept along trembling with cold and hunger--a very picture of sorrow, the poor little thing!

The flakes of snow covered her long fair hair, which fell in beautiful curls around her neck; but of that, of course, she never once now thought. From all the windows the candles were gleaming, and it smelt so deliciously of roast goose, for you know it was New Year's Eve; yes, of that she thought.

In a corner formed by two houses, of which one advanced more than the other, she seated herself down and cowered together. Her little feet she had drawn close up to her, but she grew colder and colder, and to go home she did not venture, for she had not sold any matches and could not bring a farthing of money: from her father she would certainly get blows, and at home it was cold too, for above her she had only the roof, through which the wind whistled, even though the largest cracks were stopped up with straw and rags.

Her little hands were almost numbed with cold. Oh! a match might afford her a world of comfort, if she only dared take a single one out of the bundle, draw it against the wall, and warm her fingers by it. She drew one out. "Rischt!" how it blazed, how it burnt! It was a warm, bright flame, like a candle, as she held her hands over it: it was a wonderful light. It seemed really to the little maiden as though she were sitting before a large iron stove, with burnished brass feet and a brass ornament at top. The fire burned with such blessed influence; it warmed so delightfully. The little girl had already stretched out her feet to warm them too; but--the small flame went out, the stove vanished: she had only the remains of the burnt-out match in her hand.

She rubbed another against the wall: it burned brightly, and where the light fell on the wall, there the wall became transparent like a veil, so that she could see into the room. On the table was spread a snow-white tablecloth; upon it was a splendid porcelain service, and the roast goose was steaming famously with its stuffing of apple and dried plums. And what was still more capital to behold was, the goose hopped down from the dish, reeled about on the floor with knife and fork in its breast, till it came up to the poor little girl; when--the match went out and nothing but the thick, cold, damp wall was left behind. She lighted another match. Now there she was sitting under the most magnificent Christmas tree: it was still larger, and more decorated than the one which she had seen through the glass door in the rich merchant's house.

Thousands of lights were burning on the green branches, and gaily-colored pictures, such as she had seen in the shop-windows, looked down upon her. The little maiden stretched out her hands towards them when--the match went out. The lights of the Christmas tree rose higher and higher, she saw them now as stars in heaven; one fell down and formed a long trail of fire.

"Someone is just dead!" said the little girl; for her old grandmother, the only person who had loved her, and who was now no more, had told her, that when a star falls, a soul ascends to God.

She drew another match against the wall: it was again light, and in the lustre there stood the old grandmother, so bright and radiant, so mild, and with such an expression of love.

"Grandmother!" cried the little one. "Oh, take me with you! You go away when the match burns out; you vanish like the warm stove, like the delicious roast goose, and like the magnificent Christmas tree!" And she rubbed the whole bundle of matches quickly against the wall, for she wanted to be quite sure of keeping her grandmother near her. And the matches gave such a brilliant light that it was brighter than at noon-day: never formerly had the grandmother been so beautiful and so tall. She took the little maiden, on her arm, and both flew in brightness and in joy so high, so very high, and then above was neither cold, nor hunger, nor anxiety--they were with God.

But in the corner, at the cold hour of dawn, sat the poor girl, with rosy cheeks and with a smiling mouth, leaning against the wall--frozen to death on the last evening of the old year. Stiff and stark sat the child there with her matches, of which one bundle had been burnt. "She wanted to warm herself," people said. No one had the slightest suspicion of what beautiful things she had seen; no one even dreamed of the splendor in which, with her grandmother she had entered on the joys of a new year.

The Little Match Girl was featured as The Short Story of the Day on Tue, Dec 25, 2012 


Love Means... (a girl and guy were speeding over 100 mph on a motorcycle)
Girl: Slow down. I'm scared.
Guy: No this is fun.
Girl: No its not. Please, it's too scary!
Guy: Then tell me you love me.
Girl: Fine, I love you. Slow down! Guy: Now give me a big hug. (Girl hugs him)
Guy: Can you take my helmet off and put it on? It's bugging me.
In the paper the next day: A motorcycle had crashed into a building because of break failure. Two people were on the motorcycle, but only one survived. The truth was that halfway down the road, the guy realized that his breaks broke, but he didn't want to let the girl know. Instead, he had her say she loved him, felt her hug one last time, then had her wear his helmet so she would live even though it meant he would die.

One night a guy and a girl were driving home from the movies.
The boy sensed there was something wrong because of the painful silence they shared between them that night. The girl then asked the boy to pull over because she wanted to talk. She told him that her feelings had changed & that it was time to move on. 

A silent tear slid down his cheek as he slowly reached into his pocket & passed her a folded note. At that moment, a drunk driver was speeding down that very same street. He swerved right into the drivers seat, killing the boy. Miraculously, the girl survived. Remembering the note, she pulled it out & read it. "Without your love, I would die."


A Tent in Agony
by Stephen Crane
A SULLIVAN COUNTY TALE
Four men once came to a wet place in the roadless forest to fish. They pitched their tent fair upon the brow of a pine-clothed ridge of riven rocks whence a bowlder could be made to crash through the brush and whirl past the trees to the lake below. On fragrant hemlock boughs they slept the sleep of unsuccessful fishermen, for upon the lake alternately the sun made them lazy and the rain made them wet. Finally they ate the last bit of bacon and smoked and burned the last fearful and wonderful hoecake.

Immediately a little man volunteered to stay and hold the camp while the remaining three should go the Sullivan county miles to a farmhouse for supplies. They gazed at him dismally. "There's only one of you--the devil make a twin," they said in parting malediction, and disappeared down the hill in the known direction of a distant cabin. When it came night and the hemlocks began to sob they had not returned. The little man sat close to his companion, the campfire, and encouraged it with logs. He puffed fiercely at a heavy built brier, and regarded a thousand shadows which were about to assault him. Suddenly he heard the approach of the unknown, crackling the twigs and rustling the dead leaves. The little man arose slowly to his feet, his clothes refused to fit his back, his pipe dropped from his mouth, his knees smote each other. "Hah!" he bellowed hoarsely in menace. A growl replied and a bear paced into the light of the fire. The little man supported himself upon a sapling and regarded his visitor.

The bear was evidently a veteran and a fighter, for the black of his coat had become tawny with age. There was confidence in his gait and arrogance in his small, twinkling eye. He rolled back his lips and disclosed his white teeth. The fire magnified the red of his mouth. The little man had never before confronted the terrible and he could not wrest it from his breast. "Hah!" he roared. The bear interpreted this as the challenge of a gladiator. He approached warily. As he came near, the boots of fear were suddenly upon the little man's feet. He cried out and then darted around the campfire. "Ho!" said the bear to himself, "this thing won't fight--it runs. Well, suppose I catch it." So upon his features there fixed the animal look of going--somewhere. He started intensely around the campfire. The little man shrieked and ran furiously. Twice around they went.
The hand of heaven sometimes falls heavily upon the righteous. The bear gained.
In desperation the little man flew into the tent. The bear stopped and sniffed at the entrance. He scented the scent of many men. Finally he ventured in.

The little man crouched in a distant corner. The bear advanced, creeping, his blood burning, his hair erect, his jowls dripping. The little man yelled and rustled clumsily under the flap at the end of the tent. The bear snarled awfully and made a jump and a grab at his disappearing game. The little man, now without the tent, felt a tremendous paw grab his coat tails. He squirmed and wriggled out of his coat like a schoolboy in the hands of an avenger. The bear bowled triumphantly and jerked the coat into the tent and took two bites, a punch and a hug before he, discovered his man was not in it. Then he grew not very angry, for a bear on a spree is not a black-haired pirate. He is merely a hoodlum. He lay down on his back, took the coat on his four paws and began to play uproariously with it. The most appalling, blood-curdling whoops and yells came to where the little man was crying in a treetop and froze his blood. He moaned a little speech meant for a prayer and clung convulsively to the bending branches. He gazed with tearful wistfulness at where his comrade, the campfire, was giving dying flickers and crackles. Finally, there was a roar from the tent which eclipsed all roars; a snarl which it seemed would shake the stolid silence of the mountain and cause it to shrug its granite shoulders. The little man quaked and shrivelled to a grip and a pair of eyes. In the glow of the embers he saw the white tent quiver and fall with a crash. The bear's merry play had disturbed the center pole and brought a chaos of canvas upon his head.

Now the little man became the witness of a mighty scene. The tent began to flounder. It took flopping strides in the direction of the lake. Marvellous sounds came from within--rips and tears, and great groans and pants. The little man went into giggling hysterics.
The entangled monster failed to extricate himself before he had walloped the tent frenziedly to the edge of the mountain. So it came to pass that three men, clambering up the hill with bundles and baskets, saw their tent approaching. It seemed to them like a white-robed phantom pursued by hornets. Its moans riffled the hemlock twigs.

The three men dropped their bundles and scurried to one side, their eyes gleaming with fear. The canvas avalanche swept past them. They leaned, faint and dumb, against trees and listened, their blood stagnant. Below them it struck the base of a great pine tree, where it writhed and struggled. The three watched its convolutions a moment and then started terrifically for the top of the hill. As they disappeared, the bear cut loose with a mighty effort. He cast one dishevelled and agonized look at the white thing, and then started wildly for the inner recesses of the forest.

The three fear-stricken individuals ran to the rebuilt fire. The little man reposed by it calmly smoking. They sprang at him and overwhelmed him with interrogations. He contemplated darkness and took a long, pompous puff. "There's only one of me--and the devil made a twin," he said. 


Sebuah cerita pendek adalah sebuah karya singkat sastra , biasanya ditulis dalam narasi prosa . [1] Muncul dari sebelumnya lisan cerita tradisi di abad ke-17, cerita pendek telah berkembang meliputi tubuh bekerja begitu beragam seperti untuk menentang karakterisasi mudah. Paling-paling prototipikal cerita pendek fitur cast kecil karakter bernama, dan berfokus pada insiden mandiri dengan maksud membangkitkan "efek tunggal" atau suasana hati. [2] Dengan demikian, cerita pendek menggunakan plot, resonansi, dan komponen lainnya dinamis untuk tingkat yang jauh lebih besar daripada yang khas dari anekdot , belum tingkat yang jauh lebih rendah daripada baru . Sementara cerita pendek sebagian besar berbeda dari novel, penulis kedua umumnya menarik dari kolam renang umum teknik sastra .

Singkat cerita ada telah mengatur panjangnya. Dalam hal jumlah kata tidak ada demarkasi resmi antara anekdot , cerita pendek, dan novel. Sebaliknya, parameter form diberikan oleh konteks retorika dan praktis di mana cerita yang diberikan diproduksi dan dipertimbangkan, sehingga apa yang merupakan sebuah cerita pendek mungkin berbeda antara genre, negara, era, dan komentator. [3] Seperti novel, Bentuk dominan cerita pendek mencerminkan tuntutan pasar yang tersedia untuk publikasi, dan evolusi bentuk tampaknya terkait erat dengan evolusi industri penerbitan dan pedoman pengajuan rumah penyusunnya. [4]

Cerita pendek telah dianggap baik bentuk magang sebelum karya yang lebih panjang, dan bentuk kerajinan dalam dirinya sendiri, dikumpulkan bersama dalam buku panjang yang sama, harga, dan distribusi sebagai novel. Singkat cerita penulis dapat mendefinisikan pekerjaan mereka sebagai bagian dari seni dan pribadi ekspresi bentuk. Mereka juga mungkin mencoba untuk menolak kategorisasi berdasarkan genre dan bentuk tetap.